BUTON,SENTILNEWS.COM - Di tengah berbagai sorotan terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah, Pemerintah Kabupaten Buton menegaskan komitmennya memastikan program berjalan terukur, akuntabel, dan berdampak nyata.
Sekretaris Daerah Kabupaten Buton, La Ode Syamsuddin, S.Pd., M.Si, selaku Ketua Satgas MBG Kabupaten Buton, menyampaikan bahwa pelaksanaan MBG di Buton tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga memberi kontribusi signifikan terhadap penguatan ekonomi daerah.
“Program MBG di Kabupaten Buton tidak semata-mata berbicara soal distribusi makanan bergizi. Program ini dirancang sebagai intervensi komprehensif—baik dari aspek kesehatan maupun penguatan ekonomi lokal,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, hingga Februari 2026, program tersebut telah menyerap 484 tenaga kerja lokal dalam berbagai posisi, mulai dari Kepala SPPG (KaSPPG), PLO Gizi, PLO Akuntan, Asisten Lapangan, Juru Masak, Petugas Packing, Petugas Kebersihan, hingga Pengemudi.
“Ini adalah dampak nyata yang langsung dirasakan masyarakat. MBG membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi rumah tangga, dan memperkuat kesejahteraan lokal,” jelasnya.
Selain penyerapan tenaga kerja, sebanyak 63 supplier lokal aktif turut terlibat dalam mendukung rantai pasok program. Mereka terdiri dari koperasi, BUMDes, UMKM, serta penyedia bahan pangan lainnya.
“Partisipasi pelaku usaha lokal menunjukkan bahwa MBG menciptakan efek berganda (multiplier effect). Perputaran anggaran tetap berada di daerah dan memberi manfaat luas secara inklusif,” terangnya.
Sebagai Ketua Satgas MBG, Syamsuddin menegaskan bahwa capaian saat ini merupakan tahap penguatan dan perluasan berkelanjutan. Ke depan, Pemerintah Daerah tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah penerima manfaat, tetapi juga memperkokoh rantai pasok berbasis lokal, meningkatkan standar mutu dan keamanan pangan, serta menyempurnakan tata kelola dan integrasi data lintas sektor secara lebih akuntabel.
“MBG adalah kebijakan strategis daerah. Kami ingin memastikan program ini tidak hanya menjawab kebutuhan gizi hari ini, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan generasi Buton yang sehat, tangguh, dan berdaya saing,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Koordinator Wilayah Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG), Muhamad Julyawan Abadi, menyampaikan bahwa secara teknis pelaksanaan MBG di lapangan terus menunjukkan perkembangan progresif.
“Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Buton hingga Februari 2026 telah menjangkau 30.720 penerima manfaat di berbagai jenjang pendidikan serta kelompok rentan 3B,” ujar Juliawan dalam keterangannya, Kamis (26/02/26).
Ia merinci, penerima manfaat didominasi peserta didik jenjang sekolah dasar, yakni 5.711 siswa SD kelas 1–3 dan 5.529 siswa SD kelas 4–6. Selain itu, program ini menjangkau 4.824 siswa SMP, 4.159 siswa SMA, serta 129 santri pondok pesantren.
Pada kelompok rentan 3B, sebanyak 3.539 balita, ibu hamil, dan ibu menyusui menerima manfaat sebagai bagian dari penguatan intervensi gizi pada periode krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
“Fokus kami memastikan distribusi tepat sasaran, kualitas makanan terjaga, dan pengawasan berjalan optimal di setiap titik layanan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, MBG turut melibatkan 1.607 guru, 65 tenaga kependidikan, serta 56 kader BKKBN dan Posyandu untuk mendukung distribusi dan pengawasan. Hingga Februari 2026, sembilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di Kecamatan Pasarwajo, Siotapina, Lasalimu Selatan, dan Kapontori. Delapan unit dikelola melalui kemitraan masyarakat dan yayasan, sementara satu unit bermitra dengan Polres Buton.
Dari sisi infrastruktur, satu unit SPPG beroperasi di bangunan hasil renovasi ruko dan delapan lainnya memanfaatkan rumah yang telah disesuaikan dengan standar operasional pelayanan gizi.
Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis pemberdayaan lokal, Pemerintah Kabupaten Buton optimistis MBG akan terus berkembang sebagai instrumen strategis yang tidak hanya memperkuat ketahanan gizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah secara berkelanjutan.