BUTON,SENTILNEWS.COM-Ribuan Masyarakat Kelurahan Kombeli, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar pesta adat tahunan, Mata’ano Santa, di Baruga adat Kelurahan Kombeli, Sabtu malam, 16 September 2024.

Pesta adat yang digelar tiap setahun sekali ini, mempunyai makna mendalam bagi masyarakat kombeli dalam mengenang perjalanan panjang tradisi dan asal muasal terbentuknya kampung kombeli ini.

Dengan mengusung tema “Merajut Kebhinekaan Merawat Kebersamaan, Kokohkan Semangat Untuk Indonesia Emas 2045” gelaran ini berlangsung sangat meriah.

“Pesta adat ‘matano santa’ ini adalah tradisi budaya warisan leluhur masyarakat Kelurahan Kombeli yang telah berkembang dan di praktekan sejak berabad abad lamanya,” Kata La Harani, dalam pembukaan laporan ketua panitianya.

Image

La Harani menjelaskan masyarakat Kelurahan Kombeli itu berasal dari ‘Lipumangau’ kemudian pindah ke kampung bugi, dan pindah lagi kekampung tua kombeli yang berjarak 3 kilometer dari kampung ini.

“Karena jaraknya yang jauh sehingga pada awal abad ke 19, para tokoh Kombeli menghadap kepada Sultan Buton untuk meminta dan diberi kewenangan mengelola sendiri daerahnya dan sejak saat itu pihak Kesultanan Buton memberikan izin dan menerima permintaan dari para leluhur tokoh Kelurahan Kombeli,” tambahnya lagi.

Sehingga sejak saat itulah kombeli di beri kewenangan penuh untuk mengelola sendiri kampungnya termasuk kegiatan pesta adat malam ini.

“Jadi kegiatan malam ini namanya pesta adat mataano santa,” Terangnya.

Sala satu maknanya adalah ajang silahturahmi antar sesama warga kampung, baik yang ada di daerah maupun yang ada di perantauan.

Image

Kita berkumpul, bermusyawarah, melakukan ritual adat, serta mendoakan kebaikan kebaikan kampung

Kita meminta kepada tuhan untuk di berikan keberkahan dan perlindungan untuk anak cucu baik yang ada di sini maupun yang sedang ada di perantauan

"Ritual Maata'a ini diawali dengan Pikuciapaa (Tafakur) yang dilakukan Parabela dan Moji, lalu dilanjutkan dengan ritual Bhongkaana Bhangata, yakni tanda pembukaan atau peresmian untuk dimulainya penebasan lahan kebun," katanya.

Puncak dari rangkaian ritual adat tahunan tersebut, kata dia, adalah Posambua atau Posambe yang dilakukan oleh para tokoh agama dan adat.

Ritual itu diawali dengan Pikuciapaa atau bertafakur dan kemudian dengan tukar menukar barang atau memberi dan menerima antar mereka.

Image

“Setelah semua prosesi adat ini selesai lanjut santap malam dan besok harinya akan ada kegiatan seni budaya di antaranya tari Linda, tari Panguncey, Pencak Silat dan lain sebagainya,” Paparnya.

Sementara itu, di tempat yang sama, Asisten II Kabupaten Buton, Nanang Lakaungge, mengatakan, Pesta adat ini adalah cerminan dan kekayaan budaya kita, para leluhur kita begitu luar biasa menciptakan satu tradisi ini, kita tidak hanya berkumpul saja, tapi juga melakukan ritual adat dimana di dalamnya mempunyai makna filosofis yang dalam.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Kelurahan Kombeli untuk merawat dan terus melestarikan adat dan budaya kita, terutama generasi muda untuk selalu mencintai budaya, serta memahami makna makna filosofis setiap prosesi ritual itu,” Ucapnya di hadapan masyarakat kelurahan kombeli.

Karena dengan cara itu kita menghargai perjuangan para pendahulu kita.

Pesta adat yang di selenggarakan setiap tahun sekali ini bukan hanya sekedar seremonial saja tetapi mempererat tali silaturahmi di antara kita semua.

Image

Jadi hari ini kita tidak hanya merayakan keberagaman budaya tetapi juga memperkuat tali persaudaraan, silaturahmi dan gotong royong di antara kita.

“Karena itu mari kita jadikan momen ini sebagai tempat persatuan dan kesatuan antara kita, baik yang ada di kampung maupun yang sedang di perantauan,”Pungkasnya.

Untuk di ketahui Ritual adat tahunan ini di hadiri oleh Asisten II Kabupaten Buton, Nanang Lakaungge, Anggota DPRD Buton La Maryono, SH, para Forkopimda, para kepala OPD, kepala Kantor Kementrian Agama Buton Utara, Drs. La Diri, mantan PJ Bupati Buton Basiran, M.Si, bakal calon Wakil Bupati Buton Aris Marwan Saputra, SH, dan seluruh masyarakat Kelurahan Kombeli.